Minggu, 25 Oktober 2015

Tugas 2 : arsitektur komputer dan struktur kognisi manusia

-          Arsitektur computer dan kognitif manusia

a.       Pengertian arsitektur computer
Dalam bidang teknik komputer, arsitektur komputer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistemkomputer. Arsitektur komputer ini merupakan rencana cetak-biru dan deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem interkoneksinya)
b.      Struktur kognisi manusia
Menurut Piaget (1896) struktur kognitif merupakan mental framework yang dibangun seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan dan menginterpretasikannya, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya
Struktur kognitif seseorang tidak lain adalah organisasi pengetahuan faktual yang diperoleh dari lingkungan.
c.       Kaitan antara struktur kognisi manusia dan arsitekur computer
Setiap kegiatan yang manusia lakukan pasti memiliki pola, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Pola kegiatan manusia ini biasanya berupa Sama halnya dengan arsitektur computer. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa arsitektur computer atribut–atribut sistem komputer yang terkait dengan seorang programmer, yaitu seperti saat computer mulai dinyalakan, terdapat interupsi-interupsi yang dilakukan oleh computer tersebut.
d.      Kelebihan dan kelemahan arsitektur computer dan struktur kognisi manusia
Apapun yang dilakukan komputer seperti operasi matematika dan logika diproses dengan sangat cepat dan tidak mampu ditandingi oleh manusia dengan baik. Begitupun sebaliknya apa yang mampu dilakukan manusia dengan baik seperti menyusun generalisasi, membuat kesimpulan, memahami pola-pola yang kompleks dan emosi tidak dapat dilakukan oleh komputer secara sempurna bahkan komputer tidak bisa melakukannya sama sekali.

Sumber:
Solso, L.R., Maclin, H.O., Maclin, K.M (2008), Cognitive Psychology (Eighth Edition). Jakarta: Erlangga
https://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_komputer



Tugas 1 : Pengantar Sistem Informasi Psikologi

-          Pengantar sistem informasi
a.       Pengertian informasi
Abdul Kadir (2003) mendefinisikan informasi sebagai data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakan data tersebut sedangkan menurut Davis (dalam Al Fatta, 2007) Informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang
b.      Pengertian sistem informasi
Istilah Pengertian Sistem informasi diartikan sebagai suatu sistem yang terintegrasi secara optimal dan berbasis pada komputer yang dapat menyajikan dan menghimpun berbagai jenis data yang akurat untuk bermacam kebutuhan. Pengertian Sistem Informasi adalah gabungan terorganisasi yang terdiri dari manusia, perangkat lunak, perangkat keras, jaringan komunikasi dan sumber data dalam mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam suatu organisasi.
c.       Pengertian sistem informasi psikologi
sistem informasi psikologi adalah suatu bidang kajian ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara ilmu psikologi itu sendiri dalam kaitannya dengan penggunaan komputer dan aplikasinya dalam bidang psikologi.

-             Contoh kasus :
SPSS adalah program komputer yang dipakai untuk analisis statistika tapi bidang psikologi juga memakai SPSS untuk mengetahui apakah data tersebut  valid atau tidak.
-            Analisa : 
Misalnya seorang mahasiswa ingin mengkaji apakah ada perbedaan intelegensi pada kelompok umur remja di antara anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu, setelah sudah mendapatkan datanya maka untuk mengetahui hasilnya menggunakan SPSS.

Sumber :
Al Fatta, Hanif, Analisis Perancangan Sistem Informasi untuk Keunggulan. Bersaing Perusahaan & Organisasi Modern, ANDI, Yogyakarta, 2007

Kadir, Abdul. (2003). Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.

Minggu, 10 Mei 2015

psikoterapi tugas II



a.     Pengertian terapi kelompok
Terapi kelompok adalah terapi yang dilakukan untuk membentuk perubahan terhadap klien, khususnya perubahan perilaku di dalam kelompok. Perubahan diarahkan kepada segala bentuk perilaku atau kebiasaan dari klien yang dianggap tidak bisa diterima atau tidak diharapkan oleh kelompoknya.
b.     Cara melakukan terapi kelompok
-          Fase Prakelompok
Dimulai dengan membuat tujuan, menentukan leader, jumlah anggota, criteria anggota, tempat dan waktu kegiatan, media yang digunakan. Menurut Dr. Wartono (1976) dalam Yosep (2007), jumlah anggota kelompok yang ideal dengan cara verbalisasi biasanya 7-8 orang. Sedangkan jumlah minimum 4 dan maksimum 10.
-         Fase Awal Kelompok
Fase ini ditandai dengan ansietas karena masuknya kelompok baru, dan peran baru. Yalom (1995) dalam Stuart dan Laraia (2001) membagi fase ini menjadi tiga fase, yaitu orientasi, konflik, dan kohesif. Sementara Tukman (1965) dalam Stuart dan Laraia (2001) juga membaginya dalam tiga fase, yaitu forming, storming dan norming.
a)      Tahap orientasi
Anggota mulai mencoba mengembangkan sistem sosial masing-masing, leader menunjukkan rencana terapi dan menyepakati kontrak dengan anggota.
b)      tahap konflik
Merupakan masa sulit dalam proses kelompok. Pemimpin perlu memfasilitasi ungkapan perasaan, baik positif maupun negatif dan membantu kelompok mengenali penyebab konflik. Serta mencegah perilaku perilaku yang tidak produktif (Purwaningsih & Karlina, 2009).
c)      Tahap kohesif
Anggota kelompok merasa bebas membuka diri tentang informasi dan lebih intim satu sama lain (Keliat, 2004).
-          Fase Kerja Kelompok
Pada fase ini, kelompok sudah menjadi tim. Kelompok menjadi stabil dan realistis (Keliat, 2004). Pada akhir fase ini, anggota kelompok menyadari produktivitas dan kemampuan yang bertambah disertai percaya diri dan kemandirian (Yosep, 2007).
-          Fase Terminasi
Terminasi yang sukses ditandai oleh perasaan puas dan pengalaman kelompok akan digunakan secara individual pada kehidupan sehari-hari. Terminasi dapat bersifat sementara (temporal) atau akhir (Keliat, 2004).
c.      Manfaat terapi kelompok
a)      Umum
1.      Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing) melalui
komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.
2.      Membentuk sosialisasi


3.      Meningkatkan fungsi psikologis, yaitu meningkatkan kesadaran tentang
hubungan antara reaksi emosional diri sendiri dengan perilaku defensive
(bertahan terhadap stress) dan adaptasi.
4.      Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti kognitif dan afektif.
b)      Khusus
1.      Meningkatkan identitas diri
2.      Menyalurkan emosi secara konstruktif
3.      Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari.
4.      Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, keterampilan
sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan meningkatkan kemampuan
tentang masalah-masalah kehidupan dan pemecahannya.
d.      Kasus yang diselesaikan dalam terapi kelompok
-          Depresi
-          Permasalahan isolasi sosial atau menarik diri.
-          Kecemasan
-          Skizofrenia
e.       Cari dan rangkum satu contoh yang menggambarkan terapi kelompok
pada pasien di rumah sakit khusus daerah provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami isolasi sosial atau menarik diri, dimana isolasi sosial adalah gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel, sehingga menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial.
Sebelum dilakukan terapi kelompok, semua responden kurang mampu berinteraksi sosial hal ini disebabkan karena tidak adanya tindakan atau stimulus yang dilakukan yang dapat mengubah pola perilaku yang maladaptive serta lingkungan yang kurang terapeutik seperti pasien yang terlalu banyak berada didalam ruang perawatan dan terkadang mendapatkan tekanan-tekanan dari sesama pasien.
Dari hasil penelitian yang ada, terdapat pengaruh terapi kelompok sosialisasi terhadap kemampuan pasien dalam berinteraksi sosial dan pasien yang sudah dilakukan terapi kelompok sebagian besar telah mampu bersosialisasi. Hal ini dikarenakan dalam proses terapi kelompok, pasien mendapatkan kesempatan untuk belajar cara berinteraksi sosial, yaitu memperkenalkan diri pada anggota kelompok, cara berkenalan dengan orang lain, bercakap-cakap dengan orang lain, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan melakukan kegiatan tersebut, pasien dilatih untuk tidak menarik diri dan pasien akan mampu melakukan interaksi dengan orang lain. Selain itu, dengan  bercakap-cakap maka akan terjadi distraksi yaitu fokus perhatian pasien akan beralih untuk dapat beraktivitas karena dengan beraktivitas klien tidak akan mengalami banyak waktu luang yang biasanya digunakan untuk menyendiri yang berakibat pasien menarik diri





Daftar pustaka:
Handout Psikoterapi oleh Erik S. Hutahaean.
Hasriana., Nur M., & Angraini, S. (2013). Pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan bersosialisasi pada klien isolasi sosial menarik diri di rumah sakit khusus daerah provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal. 2, (6), 74-79.
USU institutional repository










Minggu, 05 April 2015

Psikoterapi Tugas 1



1.    1. ulasan pendekatan
      
        - Pendekatan psikoanalisa di dalam psikoterapi
  Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisa. Menurut Freud, esensi pribadi       seseorang bukan terletak pada apa yang ditampilkan secara sadar, melainkan apa yang tersembunyi dalam ketidaksadarannya. Atas landasan teori tersebut, pendekatan ini mengutamakan penggalian isi ketidaksadaran seseorang. Aspek-aspek yang menjadi perhatian adalah ego,id,superego. Pendekatan psikoanalisa bertujuan untuk mengungkap hal-hal yang tersembunyi atau tak sadar, yaitu pengalaman-pengalaman masa lalu yang traumatic atau yang menimbulkan fiksasi.

Psikoterapi yang berorientasi psikoanalisa umumnya berlangsung lama karena berusaha merekonstruksi kepribadian seseorang setelah dibongkar isi ketidaksadarannya.
           
 -Pendekatan psikologi belajar di dalam psikoterapi
 Dalam pendekatan belajar didasarkan atas teori-teori belajar, antara lain prinsip-prinsip kondisioning klasik, kondisioning operan, dan belajar social. Untuk pendekatan belajar dapat digunakan skema S-O-R-K-C ( stimulus,organism,respons,concequence,contingency). Terapi dengan pendekatan belajar dinamakan behavior therapy, memusatkan perhatian pada tingkah laku yang dapat di observasi dan tidak mencari determinan-determinan di dalam diri individu, melainkan mencari determinan-determinan luar dari suatu tingkah laku patologis.

 - Pendekatan psikologi humanistic di dalam psikoterapi
 Salah satu tokoh pendekatan humanistic adalah Carl Rogers yang terkenal dengan metode terapi bernama client centered/person centered psychoteraphy. Teori Rogers dinamakan juga teori fenomenologis atau teori self. Tokoh-tokoh humanistic bernggapan bahwa manusia adalah mahkluk yang tingkatannya tinggi, mempunyai kebebasan untuk menentukan apa yang diinginkan, mempunyai bakat yang baik yang seringkali ditekan pemunculannya oleh lingkungan.

- Pendekatan psikologi kognitif di dalam psikoterapi
Terapi kognitif adalah terapi yang menggunakan pendekatan terstruktur, aktif, direktif, dan berjangka waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan dalam kepribadian , misalnya ansietas atau depresi. Terapi ini didasarkan pada teori bahwa (efek keadaan emosi, perasaan) dan tindakan seseorang, sebagian besar ditentukan oleh bagaimana seseorang tersebut membentuk dunianya. Jadi bagaimana seseorang berpikir, menentukan bagaimana perasaan dan reaksinya. Pikiran seseorang memberikan gambaran tentang rangkaian kejadian di dalam kesadarannya. Dalam hal seperti ini, terapi kognitif dipergunakan untuk mengidentifikasi, memperbaiki gejala perilaku yang malasuai, dan fungsi kognisi yang terlambat, yang mendasari aspek kognitifnya yang ada.
2.   
      
      2.contoh kasus 

- Psikodinamik
Seorang wanita berumur 35 tahun ia trauma akan masa lalunya yaitu perceraian, wanita ini sempat menikah lalu bercerai karena traumanya itu menyebabkan wanita itu merasa sangat sedih ketika melihat pelaminan dan tidak pernah menghadiri pesta pernikahan dan ia juga merasa bahwa tidak ada yang bisa membuat dia bahagia.

- Behavioristik
 Wanita yang memiliki kecemasan terhadap binatang yaitu kucing setiap ia melihat kucing ia selalu gemetar dan panas dingin, itu disebabkan karena dahulu wanita itu pernah tidak sengaja melindas kucing kesayangannya dengan mobilnya.

- Humanistik
D adalah seorang mahasiswi, ia mengalami kesepian dan merasa bahwa ia tidak penting lagi untuk bertahan hidup. Ia merasakan itu setelah kepergian kedua orangtuanya, ia merasa seperti tidak punya siapa-siapa lagi padahal ada kakanya tapi karena kakanya yang sibuk dengan urusan pribadinya.

- Kognitif
Ada seorang ibu yang mengalami kecemasan pada seorang anaknya, ibu tersebut sangat melarang anaknya untuk berkegiatan diluar rumah karena cemas dengan keselamatan anaknya, ibu tersebut mengalami kecemasan sejak kehilangan anak pertamanya.
3.   
      3. Pandangan kasus

- Psikodinamik
Dari kasus diatas bisa dilakukan dengan pendekatan psikoanalisa karena klien mengalami trauma yang di akibatkan karena pengalaman pada masa lalunya yang tidak bisa dilupakan. Pada terapi ini, terapis bertugas untuk mengidentifikasi hal-hal yang terjadi pada masa lalu di bawah ketidaksadaran klien tersebut. Metode yang dilakukan dalam terapi bisa dengan menggunakan asosiasi bebas ataupun interpretasi mimpi.

- Behavioristik
Menurut saya kasus diatas bisa dilakukan dengan pendekatan behavioristik karena teknik desensitisasi sistematik cocok untuk kasus ini yaitu klien dilatih untuk santai dengan pengalaman yang membangkitkan kecemasan. Situasi dihadirkan dalam situasi yang tidak mengancam hingga yang sangat mengancam, stimulus penghasil kecemasan dipasangkan dengan stimulus penghasil keadaan santai itu dilakukan berulang-ulang hingga respons kecemasan itu hilang,

- Humanistik
Kasus diatas bisa dilakukan dengan pendekatan humanistik karena cocok dengan proses terapi dalam konsep Client Centered Therapy (CCT). Upaya terapis untuk memahami situasi yang melekat pada klien dengan cara atau pendekatan yang diinginkan oleh klien itu sendiri, jadi klien bisa dengan bebas menceritakan perasaan-perasaan yang klien rasakan. Dalam hal ini, terapis berfungsi untuk menghubungkan berbagai pengalaman klien, membangun pemahaman yang utuh, serta mendorong klien menemukan keselarasan dengan mengacu pada kenyamanan klien.

- Kognitif
Menurut saya, pada kasus ini yang sangat cocok adalah pendekatan kognitif karena dalam pendekatan ini pasien diajarkan untuk berpikir secara rasional dan meningkatkan perilaku yang lebih positif dan efisien.


Sumber :
 Basuki, A.M.H. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Markam,suparpti sumarmo. (2007). Psikologi Klinis. Jakarta: Universitas Indonesia